Search This Blog

Showing posts with label pormadi simbolon. Show all posts
Showing posts with label pormadi simbolon. Show all posts

Tuesday, February 11, 2014

Memetik Buah Warta Kebencian (Pormadi Simbolon)

oleh Pormadi Simbolon

Di tengah kemajemukan tersebut penulis menghadapi perbenturan antara ajaran agama dan budaya setempat dengan yang penulis anut. Pada situasi demikian pula penulis melihat realitas bahwa ada beberapa pemimpin dan tokoh agama berlomba-lomba “menjual” dan mewartakan ajaran agamanya. Yang patut disesalkan adalah adanya sejumlah kecil dari mereka yang tidak segan-segan mengajarkan fanatisme berlebihan, penjelek-jelekan agama di luar agama yang dianutnya, pengajaran kebencian terhadap agama lain dan pemeluknya.

Akhir-akhir ini kekerasan, pembunuhan, bom bunuh diri dan tindak anarkhisme terhadap kelompok dan agama lain semakin kerap mewarnai kehidupan bangsa Indonesia. Mungkinkah aneka tindakan amoral tersebut merupakan buah-buah yang harus dipetik dari khotbah-khotbah kebencian yang pernah diwartakan sejumlah pemimpin agama?

Ketika duduk di Sekolah Dasar, penulis masih terkungkung dan terbelenggu dalam gua lingkungan masyarakat yang mayoritas beragama Kristen di kampung halamannya (sebuah desa di Sumatera Utara). Perasaan aman dan nyaman menjadi pengalaman tersendiri. Dunia ini terasa bagaikan milik kekristenan saja. Belum tercium adanya nuansa kebencian antaragama dan antar pemeluknya.

Namun ketika penulis harus merantau guna melanjutkan pendidikan ke Malang, mata hati dan budi penulis tercerahkan dan tersadarkan bahwa Indonesia itu pluralis dan beraneka ragam. Penulis merasa asing, aneh dan minoritas ketika berada di tengah masyarakat yang terdiri dari aneka suku, agama, ras dan antargolongan. Teristimewa karena tempat itu mayoritas berpenduduk dan berbudaya Islami.

Di tengah kemajemukan tersebut penulis menghadapi perbenturan antara ajaran agama dan budaya setempat dengan yang penulis anut. Pada situasi demikian pula penulis melihat realitas bahwa ada beberapa pemimpin dan tokoh agama berlomba-lomba “menjual” dan mewartakan ajaran agamanya. Yang patut disesalkan adalah adanya sejumlah kecil dari mereka yang tidak segan-segan mengajarkan fanatisme berlebihan, penjelek-jelekan agama di luar agama yang dianutnya, pengajaran kebencian terhadap agama lain dan pemeluknya. Pengalaman tersebut merupakan contoh yang mungkin juga terjadi di tempat lain.

Penyebaran warta kebencian dapat pula kita temui lewat media lain seperti majalah, bulletin, VCD/DVD dan internet. Warta kebencian tersebut kerap kita jumpai bila kita coba mengunjungi toko buku atau pasar loak (penjualan buku di pinggir jalanan).


Pewartaan Yang Keliru

Ajaran atau wejangan kebencian terhadap agama lain dikumandangkan oleh sejumlah pemimpin agama-agama Abrahamistik, entah di gereja atau di mesjid. Saat itu hari Jumat. Penulis naik sepeda ontel pulang dari kampus (di Malang) tiba-tiba telinga penulis menangkap dan mendengarkan khotbah yang mengajarkan kebencian terhadap agama lain. Agama lain kafir, agama kita sempurna, demikian kurang lebih inti wejangan itu. Sebagai salah seorang dari kaum minoritas, penulis merasa terkejut dan berkecil hati.

Demikian pula, ketika seorang dosen Teologi Kristen Protestantisme pernah menganjurkan para mahasiswa agar sekali-kali mau mengikuti peribadatan salah satu dari agama aliran kekristenan (sekte?) guna memahami lebih jauh tentang teologi mereka, penulis menemukan hal yang sama yaitu pewartaan kebencian terhadap agama lain lewat khotbah. Penulis pun bingung dan terkejut ketika terdengar kata-kata dari pengkhotbah gereja tersebut mengatakan bahwa agama lain itu sesat, berhala dan berasal dari iblis. Telinga terasa ditampar dan memerah.

Barangkali segelintir saja pemimpin agama yang menanamkan ajaran kebencian, permusuhan, penjelek-jelekan terhadap agama lain, namun berdampak buruk bagi kehidupan masyarakat yang majemuk. Khotbah tersebut menyakitkan telinga dan melukai hati mayoritas warga yang menginginkan kedamaian, kerukunan dan keselamatan persatuan bangsa Indonesia.

Dari berbagai opini di media massa, mayoritas pemimpin dan tokoh agama dan masyarakat berjuang ekstra keras bagaimana mereka dapat membangun suatu perdamaian dan pertemuan antara agama-agama yang berbeda-beda secara otentik dengan mengedepankan universalitas ajaran agamanya tanpa menghilangkan keunikan dan kekhasan masing-masing agama.

Namun ada saja pemimpin (dari masing-masing agama) yang mencoba merusak perdamaian dan persahabatan yang sudah terjalin dengan membongkar lagi kejelekan, aib, konflik dan permusuhan antaragama yang terjadi pada masa ekspansi Muslim ke Eropa, Perang Salib dan sistem penyiaran agama yang dapat membuka kembali luka-luka agamis yang pernah terjadi. Bisa jadi kekerasan, pembunuhan dan aksi anarkhis terhadap kelompok lain merupakan buah dari pewartaan yang keliru tentang ajaran agama.

Karen Armstrong dalam bukunya Sejarah Tuhan (Mizan, 2001) mengajak pemeluk agama-agama Abrahamistik berhenti bertengkar. Dalam keseluruhan bukunya ia menegaskan betapa pertengkaran antara agama-agama anak-anak Abraham tentang siapa yang paling benar merendahkan harkat keagamaan semua. Dengan kata lain, ia mau mengajak umat dari agama-agama Abrahamistik supaya jangan mempermalukan Tuhan.

Sudah saatnya para pemimpin agama dan tokoh agama menyetop ajaran kebencian dan permusuhan terhadap agama lain pada umatnya. Dunia akan lebih layak dihuni bila para pemimpin agama dan tokoh agama membangun sikap pengampunan, persahabatan dan persaudaraan antar suku, agama, ras dan antargolongan. Sebab ajaran memandang agama lain kafir dan sesat hanya akan menciptakan citra negatif, imej yang menakutkan, menyeramkan dan menimbulkan kemarahan terhadap pemeluk agama lain.


Filosofi Bangsa Indonesia

Bisa dibayangkan, akan kemana dan apa peran agama-agama dalam menjaga persatuan dan keutuhan Indonesia bila masing-masing agama-agama saling mencap agama sendiri yang paling benar, sedangkan agama lain kafir, sesat dan jelek. Bangsa kita bisa berhenti pada retorika dan formalisme bahwa Pancasila adalah landasan filosofi bangsa Indonesia.

Kita, umat beragama sebagai warga Republik Indonesia (RI) yang berdasarkan Pancasila telah sepakat mengutamakan persatuan dan kesatuan bangsa dan negara di atas kepentingan sendiri, golongan, perbedaan agama dan lain-lain demi terciptanya tujuan nasional sebagaimana ditetapkan dalam UUD 1945 (bdk. Penjelasan KMA No. 70 Tahun 1978)

Namun kerapkali kita warga negara RI yang mengakui Pancasila sebagai filosofi negara dan ideologi nasional masih berada pada tahap ucapan bibir manis, formalis dan retoris. Hal inilah yang dikritik oleh Prof. Dr. Nurcholis Madjid (Cak Nur). Cak Nur pernah mengkritik orang-orang yang menyebut dirinya Pancasilais, namun nilai-nilai luhur yang merupakan hasil kristalisasi budaya Indonesia tidak dilaksanakan secara murni dan konsekwen. (bdk. Sudjangi, 1992: 272-273).

Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pernah menegaskan bahwa bila Pancasila hanya berfungsi membenarkan satu agama, berhentilah ia sebagai “aturan main” yang menghubungkan semua agama dan paham dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. (bdk. Ibid, 287)

Maka tantangan bagi pelaksanaan tugas dan peran pemerintah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di bidang agama adalah bagaimana supaya Pancasila dengan nilai-nilai luhurnya dapat dilaksanakan secara murni dan konsekwen. Bila perlu pemerintah melarang tegas dan keras para pemimpin dan tokoh agama mewartakan benih-benih kebencian dan permusuhan antaragama dan pemeluknya. Dengan demikian formalisme tidak menjadi begitu kuat hingga Indonesia seakan-akan negara seremonial belaka.

Tak bisa dipungkiri bahwa para pemimpin agama adalah inti kekuatan agama dan umat. Lewat perannya sebagai pengawal ajaran agama, juru bicara aspirasi dan kepentingan umat serta integrator umat yang dapat menyatukan seluruh potensi umat, para pemimpin dan tokoh agama (ulama, kyai, pastor, pendeta) seyogiyanya menyetop ajaran stigmatisasi agama lain sebagai agama sesat dan kafir dan lalu mengedepankan persaudaraan dan persahabatan antaragama, universalitas ajaran agamanya tanpa menghilangkan keotentikan dan keunikannya.

Bila semua pemimpin agama mengedepankan agama yang humanis dengan menekankan persaudaraan dan persahabatan, kerukunan dan kedamaian antaragama, kesejahteraan dan kebaikan bangsa Indonesia, maka aneka permasalahan bangsa pelan-pelan akan dapat diatasi secara bersama-sama.

Pada bagian penutup ini, penulis mau mengulangi apa yang pernah dikemukakan oleh Moh. Hatta (1977: 32) tentang Persatuan Indonesia. “Persatuan Indonesia menjadi syarat hidup bagi Indonesia. Persatuan Indonesia mengandung di dalamnya cita-cita persahabatan dan persaudaraan segala bangsa, diliputi oleh suasana kebenaran, keadilan, kebaikan, kejujuran dan keindahan yang senantiasa dipupuk oleh alamnya”.

Unsur cita-cita persahabatan dan persaudaraan bangsa merupakan keharusan kodrati sesuai dengan kedudukan manusia sebagai ciptaaan Tuhan yang diciptakan dari satu keturunan dan dijadikan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar dapat menyelenggarakan kerja sama dalam menjalani hidup di dunia ini. Semoga.


* Pormadi Simbolon, alumnus STFT Widya Sasana Malang, tinggal di Jakarta, Tulisan ini merupakan pendapat pribadi.

Monday, February 10, 2014

Disiplin dan Keteladanan Membangun Bangsa (Pormadi Simbolon)

Disiplin diri
(foto: http://teanetralizer.blogspot.com)
Membangun keadaban publik yang kerap diserukan parabudayawan, seniman dan tokoh-tokoh agama dan masyarakat tidak mempan untuk mengubah ketidakdisiplinandalam kehidupan bermasyaraka, berbangsa, dan bernegara.

-----------------------

Disiplin dan Keteladanan Membangun Bangsa
Oleh Pormadi Simbolon

TRAUMA sosial dan psikologis akibat aneka bencana alam serta kecelakaantransportasi di tanah air menciptakan ketidakpastian di negeri ini. Anekapersoalan bersama membangkitkan gerakan tobat dan perbaikan nasib bangsaini seperti yang pernah diserukan ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama danoleh pemerintah melalui Menteri Agama. Apakah gerakan tobat itu akanberhasil? Gerakan tobat nasional akan menjadi sia-sia bila tidak ada disiplin diridalam perbaikan mutu kehidupan secara individu maupun kolektif.

-------------------

Disiplin diri menjadi kata kunci kemajuan dan kesuksesan serta kebesaranorang-orang besar yang pernah hidup dalam sejarah. Seorang pemimpin, atausiapa saja bisa mencapai kesejatian di bidangnya masing-masing karena pernahmempraktikkan disiplin diri.

Presiden Amerika Serikat (AS) ke-26, Theodore Rosevelt (1858-1919) pernahmengatakan, With self-discipline, most anything is possible; dengan disiplindiri, kebanyakan hal menjadi mungkin.

Gary Ryan Blair, seorang motivator negeri paman Sam, pernah berkata, self-dicipline is an act of cultivating. It require you to connect todays action to tomorrow's results. Theres a seasons for sowing a season of reaping. Self-discipline helps you know which is which. Inti pernyataan tersebut maumengatakan bahwa barang siapa melatih disiplin diri, maka dia akan menuaihasilnya pula. Orang yang tidak berdisiplin diri akan menerima akibatnya.

Di Indonesia pemerintah pernah menyerukan gerakan disiplin nasional dalamkehidupan bermasyarakat yang dimulai dari disiplin di jalan raya. Namun hasildari gerakan tersebut relatif belum kelihatan sampai sekarang. Gema gerakanterbut juga tidak terdengar lagi.

Membangun keadaban publik yang kerap diserukan para budayawan, senimandan tokoh-tokoh agama dan masyarakat tidak mempan untuk mengubahketidakdisiplinan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Iklan di televisi, seseorang pengemudi mobil pribadi melanggar rambu lalulintas. Ketika ditanya mengapa ia melanggarnya, ia mengatakan, tidak ada yangjaga. Kejadian di iklan tersebut sering kali terjadi dalam kehidupan sehari-hari.Pelanggaran boleh dilakukan karena tidak ada penjaga disiplin berlalulintas. Inibisa menjadi cermin kepribadian insan-insan bangsa kita.

Ketidakdisiplinan pada dunia transportasi mengakibatkan kecelakaantransportasi. Ketidakdisiplinan dalam pengelolaan hutan akan menyebabkanbencana alam. Ketidakdisiplinan dalam menjalankan peraturan yang adamenyebabkan merajalelanya tindakan korupsi, kolusi, dan nepotisme.Ketidakdisiplinan menjalankan ajaran sejati dari suatu agama menyebabkansalah tafsir yang pada akhirnya terjadilah tindakan anarkhis dan penghilangannyawa sesama secara gampang.



Keteladanan

Disiplin diri merupakan proses yang sejatinya dimulai sejak masa kanak-kanakdi dalam pendidikan sekolah keluarga. Itu berarti pendidikan non-formal dalamkeluarga menjadi dasar seseorang untuk mampu melatih disiplin diri. Namun,pelatihan disiplin diri pada orang dewasa membutuhkan ekstra pengorbanan danpengendalian diri yang intensif. Orang dewasa sudah terbentuk oleh keadaanlingkungannya. Masih mungkinkah menerapkan disiplin diri bagi para insan-insan bangsa yang tidak berdisiplin diri?

Dalam masyarakat umum, metode yang sering dilakukan untuk mendisiplinkandiri adalah pemberlakuan hukuman. Namun hasilnya, yang terjadi adalah disiplinsesaat, karena ada ancaman. Itulah yang terjadi sekarang ini. Itulah sebabnyabanyak tindakan KKN belum dapat diberantas secara signifikan.

Praktik pendisiplinan diri dapat terjadi dari orang tua kepada anak-anaknya,pemerintah kepada masyarakat, atau dari diri sendiri kepada diri sendiri.Sejatinya praktik tersebut entah yang dimulai sejak masa-masa kanak-kanakentah sesudah dewasa bersifat berkesinambungan (tidak sesaat), fleksibel(tidak otoriter), ada batas-batas yang pasti mana yang boleh dan tidak boleh,ada kepastian hukum, dan adanya komunikasi (yang sehat dan konstruktif,tanpa ada unsur saling merendahkan atau melecehkan).

Teladan yang pernah dipraktikkan oleh Benjamin Franklin mungkin bisa menjadimodel bagi setiap individu yang mau berkehendak baik untuk memperbaikikeadaan di negeri ini. Mantan Presiden AS itu melatih 13 kecakapan diri. Iamemraktikkan keugaharian untuk tidak makan dan minum terlalu banyak.Praktik diam dengan berbicara hanya tentang yang bermanfaat bagi orang lain,tidak omong kosong. Tertib dan teratur untuk melatih diri terbiasa meletakkanhal dan barang pada kedudukan dan tempatnya masing-masing, membagi waktuuntuk semua urusannya.

Ia melatih keteguhan hati dalam melaksanakan apa yang semestinya dilakukandan telah diputuskan (tidak plinplan, ragu-ragu). Praktik hemat diwujudkandengan tidak mengeluarkan biaya selain untuk hal-hal yang baik bagi orang laindan diri sendiri. Ia rajin dengan tidak membiarkan waktunya kosong,menggunakan waktunya dengan mengerjakan hal-hal yang berguna. Sikap jujurdilatihnya dengan tidak melakukan tipu muslihat yang menyakitkan hati,berpikir bersih dan jernih serta berbicara tentang yang benar saja.

Keutamaan keadilan dibangunnya dengan tidak menyalahkan orang lain denganmelakukan sesuatu yang tidak adil atau dengan melakukan hal-hal yangmerupakan kewajibannya. Sikap moderat dilatihnya dengan menghindari sikaphal-hal yang ekstrem, dan selalu bersabar terhadap hal-hal yang kurang adil atasdirinya. Ia melatih kebersihan diri dengan tidak mentolerir hal-hal yang tidakbersih dalam badan, pakaian atau rumah.

Lalu praktik ketenangan diri direalisasikannya dengan tidak gugup atas hal-halremeh atau kejadian buruk yang biasa atau tak terhindarkan. Ia meraihkemurnian dengan menggunakan seks hanya untuk kesehatan atau keturunan,tidak berlebihan sehingga bisa merusak reputasi diri sendiri dan ketenanganorang lain. Ia rendah hati terhadap siapa pun, entah kaya atau miskin, pejabatatau rakya biasa.

Ketigabelas pelajaran Franklin tersebut membuat dia berhasil memajukannegara AS. Ia menjadi teladan yang patut disegani di negerinya.

Seruan tobat dan perbaikan kultur bangsa oleh berbagai pihak akan sia-sia jikatidak ada pendisiplinan diri lebih dulu. Semuanya bermula dari disiplin diri. Jikatidak, nasib bangsa ini akan menjadi bangsa kerdil yang penuh dengan bencana,kecelakaan dan KKN.



* Penulis, alumnus Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi Widya Sasana Malang, tinggal di Jakarta

-------------------

* Praktik pendisiplinan diri dapat terjadi dari orangtua kepada anak-anaknya,pemerintah kepada masyarakat, atau dari diri sendiri kepada diri sendiri.

* Sejatinya praktik tersebut bersifat berkesinambungan, fleksibel, ada batas-batas yang pasti mana yang boleh dan tidak boleh, ada kepastian hukum, danadanya komunikasi.

* Seruan tobat dan perbaikan kultur bangsa oleh berbagai pihak akan sia-sia jikatidak ada pendisiplinan diri lebih dulu.

Sumber: http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2007/3/29/o2.htm 

Contact Form

Name

Email *

Message *